Beranda | Artikel
Keutamaan Kalimat Tauhid Laa ilaaha illallah
12 jam lalu

Keutamaan Kalimat Tauhid Laa ilaaha illallahadalah kajian Fiqih Do’a dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 13 Safar 1448 H / 28 Juli 2026 M.

Kajian Tentang Keutamaan Kalimat Tauhid Laa ilaaha illallah

Penciptaan seluruh makhluk memiliki tujuan utama untuk menegakkan kalimat Laa ilaaha illallah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman di dalam Al-Qur’an:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat[51]: 56)

Para rasul diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan membawa amanah dakwah tauhid yang tertuang di dalam kalimat Laa ilaaha illallah. Allah Subhanahu wa Ta meyakinkan hal tersebut di dalam firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwa tidak ada ilah (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. Al-Anbiya[21]: 25)

Seluruh kitab suci diturunkan untuk menjelaskan makna dan konsekuensi dari Laa ilaaha illallah. Al-Qur’an secara keseluruhan berisi pembahasan tentang tauhid, tafsir tauhid, dakwah tauhid, kisah para nabi yang menyeru kepada tauhid, serta balasan bagi orang-orang yang mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla maupun orang-orang yang berpaling darinya.

Kalimat Laa ilaaha illallah menjadi pemisah status manusia antara orang mukmin dan orang kafir. Seseorang yang menerima kalimat tauhid serta mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala berstatus sebagai mukmin. Sebaliknya, seseorang yang menolak Laa ilaaha illallah dan melakukan perbuatan syirik tergolong sebagai orang kafir.

Kalimat ini pula yang membedakan antara penduduk surga yang bahagia dengan penghuni neraka yang celaka. Orang yang wafat di atas tauhid akan memperoleh kebahagiaan di dalam surga, sedangkan orang yang mati dalam keadaan mempersekutukan Allah ‘Azza wa Jalla diharamkan masuk surga dan diancam dengan siksa neraka.

Tali yang Kokoh dan Rukun Agama yang Paling Agung

Kalimat Laa ilaaha illallah merupakan ikatan yang paling kuat, kalimat takwa, serta rukun agama yang paling agung. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai ikatan yang kokoh ini:

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى

“Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat.” (QS. Al-Baqarah[2]: 256)

Kedudukan Laa ilaaha illallah dalam Syahadat dan Cabang Keimanan serta Jalan Keselamatan dan Kunci Surga

Kalimat Laa ilaaha illallah yang berpasangan dengan syahadat bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah utusan Allah merupakan bagian paling utama dari keimanan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan kedudukan keimanan ini di dalam sabdanya:

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ

“Iman itu ada tujuh puluh sekian atau enam puluh sekian cabang. Cabang yang paling utama adalah ucapan Laa ilaaha illallah, sedangkan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.” (HR. Bukhari dan Muslim) 

Kalimat Laa ilaaha illallah merupakan jalan menuju kesuksesan di surga dan keselamatan dari siksa neraka. Seseorang yang wafat di atas tauhid akan mendapatkan pengampunan dosa dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di dalam hadits qudsi, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

“Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. Tirmidzi) 

Kalimat persaksian ini berkedudukan sebagai kunci negeri kebahagiaan, yaitu kunci pintu surga, sekaligus menjadi fondasi serta pokok utama dalam ajaran agama Islam.

Intisari Dakwah Para Nabi dan Rasul

Keutamaan lainnya yakni bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kalimat Laa ilaaha illallah sebagai intisari dakwah serta ringkasan risalah seluruh nabi dan rasul. Ketetapan mengenai pokok dakwah para utusan Allah ‘Azza wa Jalla ditegaskan di dalam Al-Qur’an:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (QS. An-Nahl[16]: 36)

Thaghut merupakan segala sesuatu yang diibadahi selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seruan tauhid ini disampaikan oleh para nabi, sebagaimana kisah Nabi Nuh ‘Alaihissalam kepada kaumnya di dalam Al-Qur’an:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada ilah bagimu selain-Nya.” (QS. Al-A’raf[7]: 59)

Nabi Hud ‘Alaihissalam, Nabi Saleh ‘Alaihissalam, Nabi Syu’aib ‘Alaihissalam, hingga Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengawali dakwah mereka dengan seruan kalimat tauhid tersebut.

Peringatan Tauhid Melalui Wahyu Malaikat

Penurunan wahyu Al-Qur’an melalui Malaikat Jibril ‘Alaihissalam bertugas menyampaikan perintah agar hamba-hamba-Nya bertakwa hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman di dalam Al-Qur’an:

يُنَزِّلُ الْمَلاَئِكَةَ بِالرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ أَنْذِرُوا أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاتَّقُونِ

“Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada ilah (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku.” (QS. An-Nahl[16]: 2)

Ayat kedua di dalam surah An-Nahl (Surah Nikmat) berisi perintah agar para hamba menyampaikan peringatan bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Para ulama menyebut surah An-Nahl sebagai surah Nikmat karena di dalamnya Allah ‘Azza wa Jalla banyak menyebutkan berbagai bentuk kenikmatan yang dikaruniakan kepada hamba-hamba-Nya.

Nikmat pertama dan paling utama yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan di dalam surah ini adalah penurunan wahyu melalui Malaikat Jibril ‘Alaihissalam yang berisi seruan untuk menegakkan kalimat Laa ilaaha illallah. Taufik untuk memahami dan mengamalkan tauhid merupakan kenikmatan terbesar serta paling agung yang disempurnakan atas para hamba. Kesanggupan untuk memegang teguh akidah tauhid dan terhindar dari perbuatan syirik hingga akhir hayat merupakan perjuangan hidup yang sangat mendasar.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai penyempurnaan kenikmatan di dalam Al-Qur’an:

وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

“Dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.” (QS. Luqman[31]: 20)

Imam Mujahid rahimahullahu ta’ala menjelaskan bahwa penafsiran dari nikmat lahir dan batin yang disempurnakan tersebut adalah kalimat Laa ilaaha illallah.

Hakikat Pemahaman Makna Laa ilaaha illallah

Ulama salaf Sufyan bin ‘Uyaynah rahimahullahu ta’ala memberikan penegasan mengenai keagungan nikmat tauhid melalui perkataannya:

مَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ مِنَ الْعِبَادِ نِعْمَةً أَعْظَمَ مِنْ أَنْ عَرَّفَهُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

“Tidak ada nikmat yang Allah berikan kepada seorang hamba yang lebih agung daripada Dia mengenalkan kepada mereka kalimat Laa ilaaha illallah.”

Mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah membutuhkan pemahaman mendalam atas makna dan konsekuensinya. Pengucapan lisan tanpa pemahaman hakiki kerap membuat seseorang masih mendatangi dukun, mempercayai hal mistik, atau memberikan sesaji. Hakikat dari Laa ilaaha illallah adalah memurnikan seluruh bentuk ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pembahasan mengenai syarat, konsekuensi, dan pembatal tauhid menjadi hal yang sangat penting untuk dipelajari secara berkesinambungan.

Perumpamaan Kalimat Thayyibah dalam Al-Qur’an seperti Pohon Kurma dan Pohon Keimanan

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati kalimat Laa ilaaha illallah sebagai kalimat yang baik. Perumpamaan kalimat tauhid ini diabadikan di dalam Al-Qur’an:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu menghasilkan buahnya pada setiap musim dengan izin Rabbnya. Dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka ingat.” (QS. Ibrahim[14]: 24-25)

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengumpamakan kalimat Laa ilaaha illallah seperti pohon yang baik (syajarah thayyibah). Di dalam hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan teka-teki kepada para sahabat mengenai perumpamaan pohon tersebut:

إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً لاَ يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ

“Sesungguhnya di antara jenis pohon ada satu pohon yang tidak gugur daunya, dan pohon itu adalah perumpamaan bagi seorang muslim. Beritahukanlah kepadaku pohon apakah itu?” (HR. Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi) 

Para sahabat memikirkan pohon-pohon yang berada di pedesaan, sedangkan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma menduga bahwa pohon tersebut adalah pohon kurma. Namun, Ibnu Umar merasa malu untuk menjawab karena berstatus sebagai yang paling muda di dalam majelis. Ketika para sahabat meminta petunjuk, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

هِيَ النَّخْلَةُ

“Pohon itu adalah pohon kurma.” (HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi) 

Pohon kurma memiliki kemiripan dengan seorang mukmin sekaligus menjadi tafsir dari perumpamaan pohon di dalam surah Ibrahim. Pohon kurma memiliki akar yang sangat kuat, membutuhkan tanah yang subur, serta pengairan yang cukup. Demikian pula seorang mukmin yang membutuhkan lingkungan yang baik serta siraman rohani agar keimanannya senantiasa terjaga. Pohon kurma menghasilkan buah yang manis serta bermanfaat, sebagaimana hati dan amal perbuatan seorang mukmin yang mendatangkan kebaikan.

Perumpamaan kalimat Laa ilaaha illallah sebagai pohon memberikan pemahaman bahwa keimanan memiliki pokok dan cabang. Apabila salah satu cabang keimanan terpotong, bentuk pohon tersebut tetap ada namun tidak lagi sempurna. Hilangnya salah satu cabang keimanan tidak serta-merta menghilangkan keimanan, melainkan mengurangi kesempurnaan iman seseorang.

Sebaliknya, apabila bagian pokok atau pangkal pohon ditebang dari bawah, pohon tersebut akan tumbang secara keseluruhan. Bagian pokok dari keimanan mencakup persaksian Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah serta rukun-rukun iman. Adapun bagian cabang-cabangnya meliputi ibadah shalat, zakat, puasa, haji, umrah, silaturahmi, berbakti kepada orang tua, dan amalan kebaikan lainnya.

Laa ilaaha illallah sebagai Ucapan yang Kokoh 

Keutamaan lain dari Laa ilaaha illallah adalah kedudukannya sebagai al-qauluts tsabit atau ucapan yang kokoh. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim[14]: 27)

Kepastian peneguhan iman melalui ucapan yang kokoh ini juga dijelaskan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Al-Bara’ bin ‘Azib Radhiyallahu ‘Anhu.

Ketika seorang mukmin telah dikuburkan, Malaikat Munkar dan Nakir akan mengajukan pertanyaan mengenai Rabbnya. Seorang mukmin mampu mengucapkan persaksian Asyhadu alla ilaha illallah. Kemampuan menjawab pertanyaan di alam kubur tersebut merupakan bentuk peneguhan iman dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana firman-Nya di dalam Al-Qur’an:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (QS. Ibrahim[14]: 27)

Seseorang yang mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla di dunia menjadi pribadi yang kuat, tegar, dan kokoh karena memiliki rasa tawakal yang besar. Kesabaran senantiasa terjaga karena adanya keyakinan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla mengangkat derajat hamba-Nya melalui ujian, serta tidak akan menyia-nyiakan keimanan hamba-Nya. Keteguhan tersebut berlanjut hingga akhir hayat dan saat berada di alam kubur.

Laa ilaaha illallah sebagai Perjanjian (Al-‘Ahd)

Kalimat Laa ilaaha illallah berkedudukan sebagai perjanjian (al-‘ahd) di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman di dalam Al-Qur’an:

لاَ يَمْلِكُونَ الشَّفَاعَةَ إِلاَّ مَنِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمَنِ عَهْدًا

“Mereka tidak berhak mendapat syafaat kecuali orang yang telah mengambil perjanjian di sisi Rabb Yang Maha Pemurah.” (QS. Maryam[19]: 87)

Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan perjanjian pada ayat tersebut adalah persaksian Laa ilaaha illallah serta sikap berlepas diri dari daya dan upaya selain dari bantuan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.

Ikatan yang Sangat Kuat (Al-‘Urwatul Wutsqa)

Syarat berpegang teguh pada tali yang kuat memerlukan gabungan antara pengingkaran terhadap Thaghut dan keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketetapan ini selaras dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى

“Barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat.” (QS. Al-Baqarah[2]: 256)

Struktur peniadaan (nafi) terhadap sesembahan selain Allah serta penetapan (itsbat) keimanan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan hakikat utama dari Laa ilaaha illallah. Penyerahan diri secara total dalam mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla diabadikan pula di dalam Al-Qur’an:

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى

“Dan barang siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.” (QS. Luqman[31]: 22)

Laa ilaaha illallah sebagai Kalimat yang Kekal Abadi 

Kalimat Laa ilaaha illallah merupakan kalimat yang kekal abadi yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam kepada keturunannya agar senantiasa kembali beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Landasan warisan tauhid ini terdapat di dalam Al-Qur’an:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِمَّا تَعْبُدُونَ إِلاَّ الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Rabb yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Dan (Ibrahim) menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada jalan yang benar.” (QS. Az-Zukhruf[43]: 26-28)

Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam berhadapan dengan ayah dan kaumnya yang menjadi penyembah berhala. Beliau secara tegas menyatakan sikap berlepas diri dari seluruh sesembahan kaumnya selain Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menciptakan diri beliau. Pernyataan tersebut menjadi warisan kalimat tauhid yang terus dilanjutkan oleh keturunannya.

Laa ilaaha illallah adalah Kalimat Takwa

Kalimat Laa ilaaha illallah berkedudukan pula sebagai kalimat takwa. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman di dalam Al-Qur’an:

إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَى وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Fath[48]: 26)

Amr bin Maimun rahimahullahu ta’ala menyatakan bahwa tidak ada perkataan yang diucapkan manusia yang lebih utama melebihi Laa ilaaha illallah. Sa’ad bin ‘Iyadh rahimahullahu ta’ala menegaskan kembali bahwa Laa ilaaha illallah merupakan kalimat takwa yang diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang senantiasa mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla.

Laa ilaaha illallah sebagai Puncak Kebenaran 

Kalimat Laa ilaaha illallah merupakan puncak dari seluruh kebenaran. Ketetapan ini selaras dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:

يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلاَئِكَةُ صَفًّا لاَ يَتَكَلَّمُونَ إِلاَّ مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَقَالَ صَوَابًا

“Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Rabb Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar.” (QS. An-Naba[78]: 38)

Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma melalui riwayat Ali bin Abi Thalhah rahimahullahu ta’ala menjelaskan bahwa maksud dari perkataan yang benar pada ayat tersebut adalah persaksian Laa ilaaha illallah, yang berkedudukan sebagai puncak kebenaran.

Laa ilaaha illallah sebagai Seruan Kebenaran 

Kalimat Laa ilaaha illallah merupakan seruan kebenaran. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an:

لَهُ دَعْوَةُ الْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لاَ يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلاَّ كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلاَّ فِي ضَلاَلٍ

“Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat mengabulkan sesuatu pun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadah) orang-orang kafir itu, tidak lain hanyalah sia-sia belaka.” (QS. Ar-Ra’d[13]: 14)

Permohonan atau doa yang ditujukan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan memberikan faedah apa pun, sebagaimana perumpamaan seseorang yang mencoba meraup air dengan telapak tangan yang terbuka. Berdoa kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla merupakan bentuk kesesatan yang nyata.

Laa ilaaha illallah sebagai Ikatan Persaudaraan Hakiki, Ikatan Keimanan Antara Malaikat dan Penduduk Bumi

Kalimat Laa ilaaha illallah merupakan ikatan hakiki yang mempersatukan seluruh pemeluk agama Islam. Setiap muslim diwajibkan membangun rasa cinta dan benci berdasarkan fondasi Laa ilaaha illallah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.” (QS. Al-Hujurat[49]: 10)

Persaudaraan yang dimaksud di dalam ayat tersebut adalah persaudaraan atas dasar agama dan tauhid. Tauhid dan kesyirikan merupakan dua hal yang saling berlawanan dan tidak akan pernah bersatu.

Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syanqiti rahimahullahu ta’ala menegaskan di dalam kitab beliau, Adhwa’ul Bayan, bahwa ikatan hakiki yang mampu menyatukan perbedaan serta menghimpun kelompok yang berpisah adalah ikatan Laa ilaaha illallah. Melalui ikatan Laa ilaaha illallah, kaum muslimin terhubung bagaikan satu jasad serta menjadi bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.

Satu bentuk keagungan ikatan tauhid tercermin pada perhatian para malaikat pemikul ‘Arasy (Hamalatul ‘Arsy) dan malaikat di sekitarnya. Malaikat-malaikat yang memiliki kedudukan sangat mulia dan dekat dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut senantiasa mendoakan dan memohonkan ampunan bagi manusia di bumi yang mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikan doa para malaikat pemikul ‘Arasy di dalam Al-Qur’an:

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ  رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ  وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arasy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Rabbnya dan mereka beriman kepada-Nya serta memohonkan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari azab neraka Jahim. Ya Rabb kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. Ghafir[40]: 7-9)

Tugas para malaikat pemikul ‘Arasy tidak sekadar memikul ‘Arasy, melainkan juga menaruh kepedulian yang sangat besar kepada kaum mukminin melalui permohonan ampunan, ampunan bagi mereka yang bertaubat, perlindungan dari azab neraka, serta permohonan agar kaum mukminin beserta keluarga mereka yang saleh dimasukkan ke dalam surga ‘Adn.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengisyaratkan adanya ikatan yang menghubungkan antara para malaikat pemikul ‘Arasy serta malaikat di sekelilingnya dengan hamba-hamba-Nya di bumi. Ikatan tersebut adalah ikatan keimanan dan kalimat Laa ilaaha illallah. Ikatan keimanan inilah yang mendorong para malaikat memanjatkan doa yang sangat agung bagi kaum mukminin.

Tidak ada perselisihan di kalangan kaum muslimin bahwa ikatan yang mengikat sesama penduduk bumi, sekaligus yang menghubungkan antara penduduk langit (para malaikat) dengan penduduk bumi, adalah kalimat Laa ilaaha illallah. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan menyeru kepada ikatan-ikatan selain Laa ilaaha illallah. Seruan fanatisme kelompok atau golongan (‘ashabiyah) merupakan seruan jahiliyah yang tercela. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda mengenai fanatisme golongan:

دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ

“Tinggalkanlah ia (fanatisme golongan), karena sesungguhnya ia adalah sesuatu yang busuk.” (HR. Muslim) 

Laa ilaaha illallah sebagai Kebaikan yang Paling Utama

Kalimat tauhid Laa ilaaha illallah berkedudukan sebagai kebaikan yang paling utama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an:

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِنْهَا

“Barang siapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik dari padanya.” (QS. An-Naml[27]: 89)

Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin ‘Abbas, Abu Hurairah, serta ‘Ikrimah rahimahumullah menafsirkan bahwa kebaikan di dalam ayat tersebut adalah ucapan Laa ilaaha illallah. Seseorang yang mengikrarkan Laa ilaaha illallah dan wafat di atas kalimat tauhid akan memperoleh ganjaran kebaikan berupa surga. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan hal tersebut melalui sabdanya:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barang siapa yang akhir perkataannya adalah Laa ilaaha illallah, niscaya ia masuk surga.” (HR. Muslim) 

Keutamaan tauhid sebagai kebaikan tertinggi ditegaskan pula dalam riwayat Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu. Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu memohon petunjuk kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي شَيْئًا يُقَرِّبُنِي مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ

“Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku suatu amalan yang dapat mendekatkanku ke surga dan menjajuhkanku dari neraka.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا عَمِلْتَ سَيِّئَةً فَاعْمَلْ حَسَنَةً ؛ فَإِنَّهَا عَشْرُ أَمْثَالِهَا

“Apabila engkau melakukan keburukan, maka kerjakanlah kebaikan setelahnya, karena kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipat.”

Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu bertanya mengenai kedudukan kalimat tauhid:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمِنَ الْحَسَنَاتِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

“Wahai Rasulullah, apakah ucapan Laa ilaaha illallah termasuk dari kebaikan?”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab:

نَعَمْ ، هِي أَحْسَنُ الحَسَنَاتِ

“Kalimat itu adalah kebaikan yang paling utama.” (HR. Al-Baihaqi)

Download MP3 Kajian Tentang Keutamaan Kalimat Tauhid Laa ilaaha illallah

Jangan lupa untuk ikut membagikan link download kajian “Keutamaan Kalimat Tauhid Laa ilaaha illallah” ini ke facebook, twitter dan yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi orang lain.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56417-keutamaan-kalimat-tauhid-laa-ilaaha-illallah/